- [INDEX] Daftar Tugas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan
- IDEALISME DAN PENDIDIKAN
- DEGRADASI MORAL DI KALANGAN PELAJAR
- TANGERANG "Benteng"
- PPT Aliran Idealisme
- MENGENAL RONGGO WARSITO
- MENGENAL LEBIH DEKAT PEMIKIRAN SYAFRUDDIN PRAWIRANEGARA
- MENGENAL SYAFRUDDIN PRAWIRANEGARA
- CERITA SEORANG FILSUF YANG MEMBINGUNGKAN
- Desain Banner KSF PGSD 3A/6
- BAGAIMANAKAH CARA BERPIKIR SEHAT ALA FILSUF? Temukan jawabannya disini.
- KONSEP SEHAT DARI PERSPEKTIF FILSAFAT
- APA ITU "Gympie-Gyimpie"? TANAMAN BERACUN DARI INDONESIA?
- Laporan Observasi Kelurahan Desa Sukanegara
- KONSEPSI NILAI DEMOKRATIS, KEBERSAMAAN DAN KETAATAN HUKUM DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN NILAI-NILAI KONSTITUSI
- DATA MONOGRAFI KABUPATEN TANGERANG
- Laporan Observasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas Rendah di SDIT Al Izzah.
- Pembuatan Magnet dengan Cara Elektromagnet (Arus Listrik)
- Puasa di Bulan Ramadan Bisa Bikin Tambah Pintar? Simak Infonya!
- Puasa Dapat Memperlambat Penuaan dan Memperpanjang Usia
- Bercanda Ala Rasulullah SAW
Jumat, 02 Januari 2015
[INDEX] Daftar Tugas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan
Jumat, 19 Desember 2014
BAGAIMANAKAH CARA BERPIKIR SEHAT ALA FILSUF? Temukan jawabannya disini.
Tahukah Anda, bagaimana cara berpikir para filsuf dalam menangani suatu permasalahan?. Ternyata menurut Habibi (2011) dalam bukunya Filsafat Sains, Sebuah Pengantar menjelaskan dua cara pokok para filsuf dalam berpikir sehat yaitu :
1. Berpikir deduktif
Dalam cara ini, kesimpulan, informasi atau jawaban yang didapatkan berkaitan dengan suatu kasus yang kita hadapi terlebih dahulu dikonfirmasikan dengan suatu kebenaran umum terkait yang sudah dapat dipastikan kebenarannya (kita terima, dan diterima oleh oleh orang banyak). Konfirmasi tersebut akan menghasilkan kesimpulan yang juga dapat kita yakini kebenarannya.
2. Berpikir Induktif
Dalam cara ini, jawaban dan kesimpulan kita peroleh dengan cara mengumpulkan fakta-fakta sebanyak mungkin mengenai kasus yang dihadapi. Pola informasi dari fakta-fakta tersebut akan menghasilkan jawaban yang teruji karena berdasarkan fakta. Pengumpulan fakta tersebut umumnya kita dapatkan melalui observasi.
Berpikir dengan sehat akan menghasilkan pribadi dan karakter yang juga sehat. Selain itu kompetensi anda dalam suatu bidang akan menjadi benar-benar meningkat dengan pesat. Coba dan buktikan prinsip ini.
Kasus untuk dipikirkan:
Coba anda renungkan berbagai peristiwa yang anda alami dalam rutinitas hidup sehari-hari, Kondisi dan kebiasaan seperti apa yang menghambat seseorang untuk berpikir sehat ala filsuf ini. Nikmati pengalaman berpikir anda dan mari kita berbagi!
1. Berpikir deduktif
Dalam cara ini, kesimpulan, informasi atau jawaban yang didapatkan berkaitan dengan suatu kasus yang kita hadapi terlebih dahulu dikonfirmasikan dengan suatu kebenaran umum terkait yang sudah dapat dipastikan kebenarannya (kita terima, dan diterima oleh oleh orang banyak). Konfirmasi tersebut akan menghasilkan kesimpulan yang juga dapat kita yakini kebenarannya.
2. Berpikir Induktif
Dalam cara ini, jawaban dan kesimpulan kita peroleh dengan cara mengumpulkan fakta-fakta sebanyak mungkin mengenai kasus yang dihadapi. Pola informasi dari fakta-fakta tersebut akan menghasilkan jawaban yang teruji karena berdasarkan fakta. Pengumpulan fakta tersebut umumnya kita dapatkan melalui observasi.
Berpikir dengan sehat akan menghasilkan pribadi dan karakter yang juga sehat. Selain itu kompetensi anda dalam suatu bidang akan menjadi benar-benar meningkat dengan pesat. Coba dan buktikan prinsip ini.
Kasus untuk dipikirkan:
Coba anda renungkan berbagai peristiwa yang anda alami dalam rutinitas hidup sehari-hari, Kondisi dan kebiasaan seperti apa yang menghambat seseorang untuk berpikir sehat ala filsuf ini. Nikmati pengalaman berpikir anda dan mari kita berbagi!
Kamis, 18 Desember 2014
CERITA SEORANG FILSUF YANG MEMBINGUNGKAN
Seorang Filsuf atau ahli Filsafat
adalah seseorang yang terkadang terlihat aneh dengan segala yang ada
dalam otak dan pemikirannya. Permainan kata, definisi dan analogi
menjadi hal yang tidak dapat dipisahkan dari seorang filsuf. Karena
itulah tidak jarang kita menjadi semakin bingung dan bertanya-tanya
tentang penjelasan dan alasan mereka. Namun bagaimana jika 2 orang
filsuf sedang beradu Argumen namun dengan menggunkan jasa pelayannya
yang bodoh ? Siapakah yang akan nampak aneh dan bodoh dalam cerita seorang ahli filsafat atau filsuf ini ? Berikut kilasan cerita nya.
Ada 2 orang ahli filsafat atau filsuf yang sudah lama tidak saling menyapa karena terdapat masalah diantara mereka berdua. Namun karena sesuatu hal maka salah seorang filsuf ( sebut saja Filsuf A ) harus melakukan komunikasi dengan yang filsuf yang lainnya ( sebut saja Filsuf B ). Tapi karena masih ada gengsi dari keduanya, maka seorang ahli filsafat ( Filsuf A ) ini mengutus pelayanannya ( sebut saja pelayan A ) untuk bertemu dengan Filsuf B. Pesan dari Filsuf A kepada pelayannya adalah menanyakan apakah Filsuf B mau bertemu dengannya untuk membicarakan masalah yang saat ini terjadi.
Lalu dengan langkah gontai tak berarah bagai Pesawat Tempur yang kena Bongkar Umar Bakrie ( kok jadi lagunya iwan fals ) si pelayanan A segera mendatangi rumah Filsuf B. Sesampai disana ia diterima oleh pelayan Filsuf B ( sebut saja pelayan B ) dan segera menyampaikan pesan dari majikannya. Si pelayan B lalu mengonfirmasikan berita itu kepada Filsuf B yang adalah majikannya. Namun Filsuf B memberi mandat agar mengatakan kepada pelayan A bahwa ia sedang tidak berada dirumah. Si pelayan B kemudian menemui pelayan A dan meyampaikan bahwa majikannya tidak berada dirumah saat ini. Lalu pulanglah pelayan A menuju rumah majikannya kembali dan memberi tahu bahwa menurut pengakuan pelayan dari Filsuf B bahwa Filsuf B tidak berada ditempat.
Namun ahli filsafat A tidak mempercayai berita tersebut dan leih percaya bahwa Filsuf B masih berada didalam rumahnya dan tidak sedang pergi kemana-mana. Berangkatlah sendiri Filsuf A menuju kediaman Filsuf B dengan tujuan agar bertemu dengan Filsuf B. Sesampai dirumah Filsuf B ia melihat filsuf B sedang duduk-duduk membaca koran di teras rumahnya. Lalu dengan agak geram Filsuf A mengatakan ke Filsuf B "Mengapa pelayanmu tadi mengatakan kepada pelayan saya bahwa kamu tidak ada padahal kamu saat ini sedang membaca koran di teras rumah mu ?" Si ahli Fulsafat B pun menanggapi hal tersebut menggunakan bahasa filsafat nya "Kamu ternyata lebih bodoh dari pelayanmu. Jika tadi hanya pelayan saya yang mengatakan kepada pelayanmu bahwa saya tidak ada dan pelayanmu percaya bahwa saya tidak ada, lalu kenapa kamu saat ini tidak bisa percaya bahwa saya tidak ada padahal yang menyampaikan saya tidak ada itu adalah saya sendiri ?" Filsuf A terheran-heran mendengar jawaban dari Filsuf B.
Ada 2 orang ahli filsafat atau filsuf yang sudah lama tidak saling menyapa karena terdapat masalah diantara mereka berdua. Namun karena sesuatu hal maka salah seorang filsuf ( sebut saja Filsuf A ) harus melakukan komunikasi dengan yang filsuf yang lainnya ( sebut saja Filsuf B ). Tapi karena masih ada gengsi dari keduanya, maka seorang ahli filsafat ( Filsuf A ) ini mengutus pelayanannya ( sebut saja pelayan A ) untuk bertemu dengan Filsuf B. Pesan dari Filsuf A kepada pelayannya adalah menanyakan apakah Filsuf B mau bertemu dengannya untuk membicarakan masalah yang saat ini terjadi.
Lalu dengan langkah gontai tak berarah bagai Pesawat Tempur yang kena Bongkar Umar Bakrie ( kok jadi lagunya iwan fals ) si pelayanan A segera mendatangi rumah Filsuf B. Sesampai disana ia diterima oleh pelayan Filsuf B ( sebut saja pelayan B ) dan segera menyampaikan pesan dari majikannya. Si pelayan B lalu mengonfirmasikan berita itu kepada Filsuf B yang adalah majikannya. Namun Filsuf B memberi mandat agar mengatakan kepada pelayan A bahwa ia sedang tidak berada dirumah. Si pelayan B kemudian menemui pelayan A dan meyampaikan bahwa majikannya tidak berada dirumah saat ini. Lalu pulanglah pelayan A menuju rumah majikannya kembali dan memberi tahu bahwa menurut pengakuan pelayan dari Filsuf B bahwa Filsuf B tidak berada ditempat.
Namun ahli filsafat A tidak mempercayai berita tersebut dan leih percaya bahwa Filsuf B masih berada didalam rumahnya dan tidak sedang pergi kemana-mana. Berangkatlah sendiri Filsuf A menuju kediaman Filsuf B dengan tujuan agar bertemu dengan Filsuf B. Sesampai dirumah Filsuf B ia melihat filsuf B sedang duduk-duduk membaca koran di teras rumahnya. Lalu dengan agak geram Filsuf A mengatakan ke Filsuf B "Mengapa pelayanmu tadi mengatakan kepada pelayan saya bahwa kamu tidak ada padahal kamu saat ini sedang membaca koran di teras rumah mu ?" Si ahli Fulsafat B pun menanggapi hal tersebut menggunakan bahasa filsafat nya "Kamu ternyata lebih bodoh dari pelayanmu. Jika tadi hanya pelayan saya yang mengatakan kepada pelayanmu bahwa saya tidak ada dan pelayanmu percaya bahwa saya tidak ada, lalu kenapa kamu saat ini tidak bisa percaya bahwa saya tidak ada padahal yang menyampaikan saya tidak ada itu adalah saya sendiri ?" Filsuf A terheran-heran mendengar jawaban dari Filsuf B.
Kamis, 11 Desember 2014
MENGENAL LEBIH DEKAT PEMIKIRAN SYAFRUDDIN PRAWIRANEGARA
MENGENAL LEBIH
DEKAT PEMIKIRAN
SYAFRUDDIN PRAWIRANEGARA
Jakarta –
Acara peringatan seabad Mr. Syafruddin Prawiranegara seolah ingin
mengukuhkan salah satu tokoh perjuangan kemerdekaan tersebut sebagai presiden
RI ke-2. Mr Sjafruddin adalah presiden RI yang terlupakan.
Peringatan
seabad Mr Sjafruddin (1911-2011), digelar di Gedung Chandra Bank Indonesia
(BI), Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (28/2/2011).
Hadir
dalam kesempatan tersebut Wakil Presiden Boediono mewakili Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY) yang sedang berhalangan karena baru pulang dari luar
negeri. Hadir pula pimpinan lembaga negara seperti Ketua MPR Taufiq Kiemas,
Ketua DPR Marzuki Alie, Ketua DPD Irman Gusman, dan Ketua Mahkamah Konstitusi
(MK) Mahfudz MD, dan Seskab Dipo Alam.
Keluarga
almarhum Mr Sjafruddin pun juga diundang dalam acara tersebut, di antaranya
sang putra Farid Sjafruddin. Bertindak sebagai Ketua Panitia Peringatan seabad
Mr Sjafruddin adalah mantan Wakil Ketua MPR AM Fatwa.
Sejak
dimulai, pembawa acara Sandrina Malakiano menegaskan kepada audiens bahwa
sebelum Presiden SBY, bukan cuma ada 6 presiden yang mendahului, melainkan 7
presiden termasuk Mr Sjafruddin. Sejak merdeka, Indonesia mempunyai 7 presiden,
11 wakil presiden, 13 perdana menteri, dan 41 kabinet.
“Mr
Sjafruddin adalah presiden Indonesia yang terlupakan,” kata mantan
presenter TV tersebut.
Mr
Sjafruddin dinilai layak disebut Presiden karena pernah
menjadi Ketua/Presiden Pemerintahan Darurat Republik
Indonesia (PDRI) tahun 1948. Saat itu, terjadi Agresi Militer Belanda ke
II saat Presiden Soekarno dan Wapres Mohammad Hatta ditawan oleh penjajah.
Mr
Sjafruddin, yang tengah berada di Sumatera Barat (Sumbar), memproklamirkan
berdirinya PDRI untuk menyelamatkan nafas NKRI yang baru berumur 3 tahun. Mr
Sjafruddin juga yang mengupayakan perjanjian Room-Royen yang mengakhiri
pendudukan Belanda dan dibebaskannya tokoh proklamator Soekarno-Hatta. Tanggal
13 Juli 1949, setelah kurang lebih 209 hari memimpin PDRI, Mr Sjafruddin
menyerahkan mandatnya kepada Soekarno-Hatta.
“Mr
Sjafruddin adalah penyelamat republik. Oleh Bung Hatta, beliau disebut sebagai
presiden darurat,” kata AM Fatwa atas penyandangan gelar ‘presiden’ Mr
Sjafruddin yang hingga kini masih debatable itu.
Mr
Sjafruddin lahir di Serang, Banten, 28 Februari 1911, merupakan anak dari
seorang jaksa bernamaArsyad Prawiraatmadja. Mr Sjafruddin menempuh pendidikan
di ELS pada tahun 1925, MULO di Madiun tahun 1928, dan AMS Bandung tahun 1931.
Pendidikan tingginya adalah Rechtshogeshool Jakarta (sekarang Fakultas Hukum
Uviversitas Indonesia) tahun 1939 dan berhasil meraih Meesterning de Rechten
(Magister Hukum).
Mr
Sjafruddin adalah anggota Badan Pekerja KNIP (1945), yang bertugas
mempersiapkan garis besar haluan negara RI sebelum merdeka. Mr Sjafruddin
adalah pejabat menteri keuangan pertama RI (1946), dan Menteri Kemakmuran
(1947). Setelah PDRI yang diketuainya menyerahkan mandat, ia sempat diangkat
sebagai Wakil Perdana Menteri pada tahun 1949. Ia kembali diangkat menjadi
Menkeu di kabinet Hatta pada Maret 1950 dan menelurkan kebijakan yang cukup
terkenal saat itu, yakni pengguntingan uang dari nilai Rp 5 ke atas (Gunting
Sjafruddin).
Ia
kemudian menjabat sebagai Gubernur BI yang pertama tahun 1951. Setelah itu, Mr
Sjafruddin memilih bergabung dengan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia
(PRRI) yang juga berbasis di Sumatera, sebuah gerakan untuk menentang kebijakan
presiden Soekarno. Gara-gara sikapnya yang berlawanan tersebut, ia sempat
dipenjarakan oleh Soekarno tanpa proses pengadilan.
Berdasarkan
agenda kegiatan yang dibagikan kepada wartawan, ada beberapa buku yang akan
diterbitkan menyambut 1 abad Mr Sjafruddin ini. Di antaranya adalah “Sjafruddin
Prawiranegara Lebih Takut kepada Allah,” dan “.”Presiden Prawiranegara, Kisah
209 hari Mr Sjafruddin Memimpin Indonesia“.
Selain
itu digelar pula seminar mengenai sosok Mr. Sjafruddin di berbagai kota mulai
pertengahan Maret hingga Juni 2011. Panitia juga membuat film dokumenter
tentang Mr Sjafruddin.
Mengenal
lebih dekat sosok Mr. Sjafruddin Prawiranegara
Syafruddin
Prawiranegara, atau juga ditulis Sjafruddin Prawiranegara lahir di
Banten, 28 Februari 1911. Beliau adalah pejuang pada masa kemerdekaan Republik
Indonesia yang juga pernah menjabat
sebagai Presiden/Ketua PDRI (Pemerintah Darurat Republik
Indonesia) ketika pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta jatuh ke tangan
Belanda saat Agresi Militer Belanda II 19 Desember 1948.
Di
masa kecilnya akrab dengan panggilan “Kuding“, dalam tubuh Syafruddin mengalir
darah campuranBanten dan Minang. Buyutnya, Sutan Alam Intan,
masih keturunan Raja Pagaruyung di Sumatera Barat, yang dibuang ke Banten
karena terlibat Perang Padri. Menikah dengan putri bangsawan Banten, lahirlah
kakeknya yang kemudian memiliki anak bernama R. Arsyad Prawiraatmadja.
Itulah ayah Kuding yang, walaupun bekerja sebagai jaksa, cukup dekat
dengan rakyat, dan karenanya dibuang Belanda ke Jawa Timur.
Kuding,
yang gemar membaca kisah petualangan sejenis Robinson Crusoe, memiliki
cita-cita tinggi — “Ingin menjadi orang besar,” katanya. Itulah sebabnya ia
masuk Sekolah Tinggi Hukum (sekarang Fakultas Hukum Universitas Indonesia) di
Jakarta (Batavia).
Pemerintahan
Darurat Republik Indonesia.
”
Kami menguasakan kepada Mr Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI
untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra ”
Ketika
Belanda melakukan agresi militernya yang kedua di Indonesia pada tanggal 19
Desember 1949, Soekarno-Hatta sempat mengirimkan telegram yang berbunyi, “Kami,
Presiden Republik Indonesia memberitakan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember
1948 djam 6 pagi Belanda telah mulai serangannja atas Ibu-Kota Jogyakarta.
Djika dalam keadaan Pemerintah tidak dapat mendjalankan kewadjibannja lagi,
kami menguasakan kepada Mr Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI
untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra”.
Telegram
tersebut tidak sampai ke Bukittinggi di karenakan sulitnya sistem komunikasi
pada saat itu, namun ternyata pada saat bersamaan ketika mendengar berita bahwa
tentara Belanda telah menduduki Ibukota Yogyakarta dan menangkap sebagian besar
pimpinan Pemerintahan Republik Indonesia, tanggal 19 Desember sore hari,
Sjafruddin Prawiranegara segera mengambil inisiatif yang senada. Dalam rapat di
sebuah rumah dekat Ngarai Sianok, Bukittinggi, 19 Desember 1948, ia
mengusulkan pembentukan suatu pemerintah darurat (emergency government).
Gubernur Sumatra Mr TM Hasan menyetujui usul itu “demi menyelamatkan Negara
Republik Indonesia yang berada dalam bahaya, artinya kekosongan kepala
pemerintahan, yang menjadi syarat internasional untuk diakui sebagai negara”.
Pemerintah
Darurat Republik Indonesia (PDRI) dijuluki “penyelamat Republik”. Dengan
mengambil lokasi di suatu tempat di daerah Sumatera Barat, pemerintahan
Republik Indonesia masih tetap eksis meskipun para pemimpin Indonesia seperti
Soekarno-Hatta telah ditangkap Belanda di Yogyakarta. Sjafruddin Prawiranegara
menjadi Ketua PDRI dan kabinetnya yang terdiri dari beberapa orang menteri.
Meskipun istilah yang digunakan waktu itu “ketua”, namun kedudukannya sama
dengan presiden.
Sjafruddin
menyerahkan mandatnya kemudian kepada Presiden Soekarno pada tanggal 13 Juli
1949 di Yogyakarta. Dengan demikian, berakhirlah riwayat PDRI yang selama
kurang lebih delapan bulan melanjutkan eksistensi Republik Indonesia sebagai
negara bangsa yang sedang mempertaankan kemerdekaan dari agresor Belanda yang
ingin kembali berkuasa.
Setelah
menyerahkan mandatnya kembali kepada presiden Soekarno, Syafruddin
Prawiranegara tetap terlibat dalam pemerintahan dengan menjadi menteri
keuangan. Pada Maret 1950, selaku Menteri Keuangan dalam Kabinet Hatta, ia
melaksanakan pengguntingan uang dari nilai Rp 5 ke atas, sehingga nilainya
tinggal separuh. Kebijaksanaan moneter yang banyak dikritik itu dikenal dengan
julukan Gunting Syafruddin.
PRRI
Akibat
ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat karena ketimpangan-ketimpangan sosial
yang terjadi dan juga pengaruh komunis (terutama PKI) yang semakin menguat,
pada awal tahun 1958, Syafruddin Prawiranegara dan beberapa tokoh lainnya
mendirikan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang berbasis di
sumatera tengah dan ia di tunjuk sebagai Presidennya.
Dakwah
Setelah
bertahun-tahun berkarir di dunia politik, Syafrudin
Prawiranegara akhirnya memilih lapangan dakwah sebagai kesibukan masa
tuanya. Dan, ternyata, tidak mudah. Berkali-kali bekas tokoh Partai Masyumi ini
dilarang naik mimbar. Juni 1985, ia diperiksa lagi sehubungan dengan isi
khotbahnya pada hari raya Idul Fitri 1404 H di masjid Al-A’raf, Tanjung Priok,
Jakarta.
“Saya
ingin mati di dalam Islam. Dan ingin menyadarkan, bahwa kita tidak perlu takut
kepada manusia, tetapi takutlah kepada Allah,” ujar ketua Korp Mubalig
Indonesia (KMI) itu tentang aktivitasnya itu.
Di
tengah kesibukannya sebagai mubalig, bekas gubernur Bank Sentral 1951 ini masih
sempat menyusun buku Sejarah Moneter, dengan bantuan Oei Beng To, direktur
utama Lembaga Keuangan Indonesia.
Syafruddin
Prawiranegara meninggal pada 15 Februari 1989 di makamkan di Tanah Kusir,
Jakarta Selatan.
Biodata
Nama
lengkap : Mr. Syafruddin Prawiranegara
Nama kecil : Kuding
Lahir : 28 Februari 1911
Meninggal : 15 Februari 1989 (umur 77)
Ayah : Arsyad Prawiraatmadja
Istri : T. Halimah Syehabuddin Prawiranegara
Agama : Islam
Nama kecil : Kuding
Lahir : 28 Februari 1911
Meninggal : 15 Februari 1989 (umur 77)
Ayah : Arsyad Prawiraatmadja
Istri : T. Halimah Syehabuddin Prawiranegara
Agama : Islam
Ketua/Presiden
Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI)
Masa jabatan : 19 Desember 1948 – 13 Juli 1949
Pendahulu : Soekarno
Pengganti : Soekarno
Masa jabatan : 19 Desember 1948 – 13 Juli 1949
Pendahulu : Soekarno
Pengganti : Soekarno
Pendidikan:
ELS
(1925)
MULO,Madiun (1928)
AMS, Bandung (1931)
Rechtshogeschool, Jakarta (1939)
MULO,Madiun (1928)
AMS, Bandung (1931)
Rechtshogeschool, Jakarta (1939)
Karir:
Pegawai Siaran Radio Swasta (1939-1940)
Petugas Departemen Keuangan Belanda (1940-1942)
Pegawai Departemen Keuangan Jepang
Anggota Badan Pekerja KNIP (1945)
Wakil Menteri Keuangan (1946)
Menteri Keuangan (1946)
Menteri Kemakmuran (1947)
Perdana Menteri RI (1948)
Presiden Pemerintah Darurat RI (1948)
Wakil Perdana Menteri RI (1949)
Menteri Keuangan (1949-1950)
Gubernur Bank Sentral/Bank Indonesia (1951)
Anggota Dewan Pengawas Yayasan Pendidikan & Pembangunan Manajemen (PPM) (1958)
Pimpinan Masyumi (1960)
Anggota Pengurus Yayasan Al Azhar/Yayasan Pesantren Islam (1978)
Ketua Korps Mubalig Indonesia (1984 – 1989 )
Pegawai Siaran Radio Swasta (1939-1940)
Petugas Departemen Keuangan Belanda (1940-1942)
Pegawai Departemen Keuangan Jepang
Anggota Badan Pekerja KNIP (1945)
Wakil Menteri Keuangan (1946)
Menteri Keuangan (1946)
Menteri Kemakmuran (1947)
Perdana Menteri RI (1948)
Presiden Pemerintah Darurat RI (1948)
Wakil Perdana Menteri RI (1949)
Menteri Keuangan (1949-1950)
Gubernur Bank Sentral/Bank Indonesia (1951)
Anggota Dewan Pengawas Yayasan Pendidikan & Pembangunan Manajemen (PPM) (1958)
Pimpinan Masyumi (1960)
Anggota Pengurus Yayasan Al Azhar/Yayasan Pesantren Islam (1978)
Ketua Korps Mubalig Indonesia (1984 – 1989 )
Catatan: Diolah
dari berbagai sumber
sumber:
SYAFRUDDIN PRAWIRANEGARA
MENGENAL
SYAFRUDDIN PRAWIRANEGARA
Syafruddin
Prawiranegara, atau juga ditulis Sjafruddin Prawiranegara (lahir
di Serang, Banten, 28 Februari 1911 – meninggal
di Jakarta, 15 Februari 1989 pada umur 77
tahun) adalah pejuang pada masa kemerdekaan Republik Indonesia yang
juga pernah menjabat sebagai Presiden/Ketua PDRI (Pemerintah
Darurat Republik Indonesia) ketika pemerintahan Republik Indonesia diYogyakarta jatuh
ke tangan Belanda saat Agresi Militer Belanda II pada
tanggal 19 Desember 1948.
Masa Muda dan Pendidikan
Tokoh
yang lahir di Anyar Kidul yang memiliki nama kecil "Kuding", yang
berasal dari kata Udin pada nama Syariffudin. Ia memiliki darah keturunan Sunda dari pihak ibu
dan Sunda Minangkabau dari
pihak ayah. Buyutnya dari pihak ayah, Sutan Alam Intan, masih keturunan
raja Pagaruyung di Sumatera
Barat, yang dibuang ke Banten karena
terlibat Perang Padri. Ia menikah dengan putri bangsawan
Banten, melahirkan kakeknya yang kemudian memiliki anak bernama R. Arsyad
Prawiraatmadja. Ayah Syafruddin bekerja sebagai jaksa, namun cukup dekat
dengan rakyat, dan karenanya dibuang oleh Belanda ke Jawa Timur.
Syafruddin
menempuh pendidikan ELS pada
tahun 1925,
dilanjutkan ke MULO di Madiun pada
tahun 1928,
dan AMS di Bandungpada
tahun 1931.
Pendidikan tingginya diambilnya di Rechtshoogeschool (Sekolah Tinggi
Hukum) di Jakarta (sekarang
Fakultas Hukum Universitas Indonesia) pada tahun 1939, dan berhasil meraih
gelar Meester in de Rechten (saat ini
setara dengan Magister Hukum).
Pra-kemerdekaan
Sebelum
kemerdekaan, Syafruddin pernah bekerja sebagai pegawai siaran radio swasta (1939-1940), petugas pada
Departemen Keuangan Belanda (1940-1942),
serta pegawai Departemen Keuangan Jepang.
Setelah
kemerdekaan Indonesia, ia menjadi anggota Badan Pekerja KNIP (1945), yang bertugas
sebagai badan legislatif di Indonesia sebelum terbentuknya MPR dan DPR. KNIP
diserahi kekuasaan legislatif dan ikut menetapkan Garis-garis Besar Haluan Negara.
Pemerintah Darurat RI
Syafruddin
adalah orang yang ditugaskan oleh Soekarno dan Hatta untuk membentuk
Pemerintahan Darurat RI (PDRI), ketika Presiden Soekarno dan
Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap pada Agresi
Militer II, kemudian diasingkan oleh Belanda kePulau Bangka,
1948. Syafruddin menjadi Ketua Pemerintah Darurat RI pada 1948.
Atas
usaha Pemerintah Darurat, Belanda terpaksa berunding dengan Indonesia.
Perjanjian Roem-Royen mengakhiri upaya Belanda, dan akhirnya Soekarno dan
kawan-kawan dibebaskan dan kembali ke Yogyakarta. Pada 13 Juli 1949, diadakan
sidang antara PDRI dengan Presiden Sukarno, Wakil Presiden Hatta serta sejumlah
menteri kedua kabinet. Serah terima pengembalian mandat dari PDRI secara resmi
terjadi pada tanggal 14 Juli 1949 di Jakarta.
Jabatan Pemerintahan
Syafrudin
Prawiranegara pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri, Menteri Keuangan,
dan Menteri Kemakmuran. Ia menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan pada
tahun 1946,
Menteri Keuangan yang pertama kali pada tahun 1946 dan Menteri
Kemakmuran pada tahun 1947. Pada saat menjabat sebagai Menteri Kemakmuran inilah
terjadi Agresi Militer II dan menyebabkan terbentuknya PDRI.
Seusai
menyerahkan kembali kekuasaan Pemerintah Darurat RI, ia menjabat sebagai Wakil
Perdana Menteri RI pada tahun 1949, kemudian sebagai Menteri Keuangan antara tahun 1949-1950. Selaku Menteri
Keuangan dalam Kabinet Hatta, pada bulan Maret 1950 ia melaksanakan pengguntingan
uang dari nilai Rp 5 ke atas, sehingga nilainya tinggal separuh. Kebijaksanaan
moneter yang banyak dikritik itu dikenal dengan julukan Gunting Syafruddin.
Syafruddin
kemudian menjabat sebagai Gubernur Bank Sentral Indonesia yang pertama, pada
tahun 1951. Sebelumnya ia adalah Presiden Direktur Javasche Bank yang terakhir,
yang kemudian diubah menjadi Bank Sentral Indonesia.
Keterlibatan dalam PRRI
Pada
awal tahun 1958, PRRI berdiri akibat
ketidakpuasan terhadap pemerintah karena ketimpangan-ketimpangan sosial yang
terjadi dan pengaruh komunis (terutama PKI) yang semakin menguat.
Syafruddin diangkat sebagai Perdana Menteri PRRI dan kemudian membentuk Kabinet
tandingan sebagai Jawaban atas dibentuknya kabinet Ir Juanda, di Jawa. Kabinet
PRRI berbasis di Sumatera Tengah. PRRI masih tetap mengakui Soekarno sebagai
Presiden PRRI, karena ia diangkat secara konstitusional.
Pada
bulan Agustus 1958, perlawanan PRRI dinyatakan berakhir dan pemerintah pusat di
Jakarta berhasil menguasai kembali wilayah-wilayah yang sebelumnya bergabung
dengan PRRI. Keputusan Presiden RI No.449/1961 kemudian menetapkan pemberian
amnesti dan abolisi bagi orang-orang yang tersangkut dengan pemberontakan, termasuk
PRRI.
Pimpinan Masyumi (1960)
Masa Tua
Syafrudin
Prawiranegara memilih lapangan dakwah sebagai kesibukan masa tuanya. Namun
berkali-kali bekas tokoh Partai Masyumi ini dilarang naik mimbar. Pada bulan Juni
1985, ia diperiksa sehubungan dengan isi khotbahnya pada hari raya Idul Fitri 1404
H di masjid Al-A'raf, Tanjung Priok, Jakarta. Dalam aktivitas
keagamaannya, ia pernah menjabat sebagai Ketua Korp Mubalig Indonesia (KMI).
Kegiatan-kegiatannya yang berkaitan dengan pendidikan, keislaman, dan dakwah,
antar lain:
Anggota
Dewan Pengawas Yayasan Pendidikan & Pembinaan Manajemen (PPM), kini dikenal
dengan nama PPM Manajemen(1958)
Anggota
Pengurus Yayasan Al Azhar/Yayasan Pesantren Islam (1978)
Ketua
Korps Mubalig Indonesia (1984-??)
Ia
juga sempat menyusun buku Sejarah Moneter, dengan bantuan Oei Beng To, direktur
utama Lembaga Keuangan Indonesia.
Syafruddin
Prawiranegara meninggal di Jakarta, pada tanggal 15 Februari 1989, pada umur 77
tahun.
"Saya
ingin mati di dalam Islam. Dan ingin menyadarkan, bahwa kita tidak perlu takut
kepada manusia, tetapi takutlah kepada Allah".
Keluarga
Syafruddin
menikah dengan Tengku
Halimah Syehabuddinn. Mereka memiliki delapan orang anak, dan
sekitar lima belas cucu. Cucunya ketiga belas lahir di Australia sebagaibayi tabung pertama
keluarga Indonesia, 1981.
Rabu, 10 Desember 2014
RONGGO WARSITO
MENGENAL RONGGO
WARSITO
Raden Ngabehi Rangga Warsita (alternatif: Ronggowarsito; lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 15 Maret 1802 – meninggal
di Surakarta,Jawa Tengah, 24 Desember 1873 pada umur 71
tahun) adalah pujangga besar budaya Jawa yang hidup di Kasunanan Surakarta. Ia dianggap sebagai
pujangga besar terakhir tanah Jawa.
Asal-Usul
Nama aslinya
adalah Bagus Burhan. Ia
adalah putra dari Mas Pajangswara (juga disebut Mas Ngabehi Ranggawarsita.
Ayahnya adalah cucu dari Yasadipura II,
pujangga utama Kasunanan Surakarta.Ayah Bagus Burhan merupakan
keturunan Kesultanan Pajang sedangkan ibunya adalah
keturunan dari Kesultanan Demak. Bagus Burhan diasuh oleh Ki
Tanujaya, abdi dari ayahnya.
Riwayat Masa Muda
Sewaktu muda Burhan
terkenal nakal dan gemar judi. Ia dikirim kakeknya untuk berguru agama Islam pada
Kyai Imam Besari pemimpin Pesantren Gebang Tinatar di desa Tegalsari (Ponorogo).
Pada mulanya ia tetap saja bandel, bahkan sampai kabur ke Madiun. Setelah
kembali ke Ponorogo,
konon, ia mendapat "pencerahan" di Sungai Kedungwatu, sehingga
berubah menjadi pemuda alim yang pandai mengaji.
Ketika pulang ke Surakarta,
Burhan diambil sebagai cucu angkat Panembahan Buminoto (adik Pakubuwana IV).
Ia kemudian diangkat sebagai Carik Kadipaten Anom bergelar Mas Pajanganom
tanggal 28 Oktober 1819
Pada masa
pemerintahan Pakubuwana V (1820 – 1823), karier Burhan
tersendat-sendat karena raja baru ini kurang suka dengan Panembahan Buminoto
yang selalu mendesaknya agar pangkat Burham dinaikkan.
Pada tanggal 9 November 1821 Burhan menikah
dengan Raden Ayu Gombak dan ikut mertuanya, yaitu Adipati Cakradiningrat
di Kediri.
Di sana ia merasa jenuh dan memutuskan berkelana ditemani Ki Tanujoyo. Konon,
Burhan berkelana sampai ke Pulau Bali untuk
mempelajari naskah-naskah sastra Hindu koleksi Ki Ajar
Sidalaku.
Puncak Kejayaan Karier
Bagus Burhan diangkat
sebagai Panewu Carik Kadipaten Anom bergelar Raden Ngabei Ronggowarsito,
menggantikan ayahnya yang meninggal di penjara Belanda tahun 1830. Lalu setelah
kematian Yasadipura II, Ranggawarsita diangkat sebagai pujangga Kasunanan Surakarta oleh Pakubuwana
VII pada tanggal 14 September 1845.
Pada masa inilah
Ranggawarsita melahirkan banyak karya sastra. Hubungannya dengan Pakubuwana
VII juga sangat harmonis. Ia juga dikenal sebagai peramal ulung
dengan berbagai macam ilmu kesaktian. Naskah-naskah babad cenderung bersifat
simbolis dalam menggambarkan keistimewaan Ranggawarsita. Misalnya, ia
dikisahkan mengerti bahasa binatang. Ini merupakan simbol bahwa, Ranggawarsita
peka terhadap keluh kesah rakyat kecil.
Misteri Kematian
Patung
Rangga Warsita di depan museum Radya Pustaka, Surakarta
Pakubuwana IX naik
takhta sejak tahun 1861.
Ia adalah putra Pakubuwana VI yang dibuang ke Ambon tahun 1830 karena mendukungPangeran Diponegoro. Konon, sebelum
menangkap Pakubuwana VI, pihak Belanda lebih
dulu menangkap juru tulis keraton, yaitu Mas Pajangswara untuk dimintai
kesaksian. Meskipun disiksa sampai tewas, Pajangswara tetap diam tidak mau
membocorkan hubunganPakubuwana VI dengan Pangeran Dipanegara.
Meskipun
demikian, Belanda tetap
saja membuang Pakubuwana VI dengan alasan bahwa
Pajangswara telah membocorkan semuanya. Fitnah inilah yang menyebabkan Pakubuwana IX kurang
menyukai Ranggawarsita, yang tidak lain adalah putra Pajangswara.
Hubungan Ranggawarsita
dengan Belanda juga
kurang baik. Meskipun ia memiliki sahabat dan murid seorang Indo bernama C.F. Winter,
Sr., tetap saja gerak-geriknya diawasi Belanda.
Ranggawarsita dianggap sebagai jurnalis berbahaya yang tulisan-tulisannya dapat
membangkitkan semangat juang kaum pribumi. Karena suasana kerja yang semakin
tegang, akibatnya Ranggawarsita pun keluar dari jabatan redaksi surat kabar
Bramartani tahun 1870.
Ranggawarsita meninggal
dunia secara misterius tanggal 24 Desember 1873. Anehnya, tanggal kematian tersebut justru terdapat dalam
karya terakhirnya, yaitu Serat Sabdajatiyang ia tulis sendiri. Hal
ini menimbulkan dugaan kalau Ranggawarsita meninggal karena dihukum mati,
sehingga ia bisa mengetahui dengan persis kapan hari kematiannya.
Penulis yang
berpendapat demikian adalah Suripan Sadi Hutomo (1979) dan Andjar Any (1979).
Pendapat tersebut mendapat bantahan dari pihak elit keraton Kasunanan Surakarta yang berpendapat kalau
Ranggawarsita adalah peramal ulung sehingga tidak aneh kalau ia dapat meramal
hari kematiannya sendiri.Ranggawarsita dimakamkan di Desa Palar, Kecamatan Trucuk, Kabupaten
Klaten. Makamnya pernah dikunjungi dua presiden Indonesia,
yaitu Soekarno dan Gus Dur pada
masa mereka menjabat.
Ranggawarsita dan Zaman Edan
Istilah Zaman Edan
konon pertama kali diperkenalkan oleh Ranggawarsita dalam Serat
Kalatida, yang terdiri atas 12 bait tembang Sinom. Salah satu
bait yang paling terkenal adalah:
amenangi zaman édan,
éwuhaya ing pambudi,
mélu ngédan nora tahan,
yén tan mélu anglakoni,
boya keduman mélik,
kaliren wekasanipun,
ndilalah kersa Allah,
begja-begjaning kang
lali,
luwih begja kang éling
klawan waspada.
Yang
terjemahannya sebagai berikut:
menyaksikan zaman gila,
serba susah dalam
bertindak,
ikut gila tidak akan
tahan,
tapi kalau tidak
mengikuti (gila),
tidak akan mendapat
bagian,
kelaparan pada
akhirnya,
namun telah menjadi
kehendak Allah,
sebahagia-bahagianya
orang yang lalai,
akan lebih bahagia orang
yang tetap ingat dan waspada
Dari karya-karya
Ronggowarsito, akan kelihatan bahwa pemikirannya banyak dipengaruhi oleh
kepustakaan Islam kejawen, tradisi dan kepustakaan Jawa. Pembahasan
dan pemikiran Ronggowarsito, terpusat untuk merumuskan kembali pokok-pokok
pemikiran yang terdapat dalam perbendaharaan kepustakaan Jawa dan Islam
kejawen. Sehingga karya-karya Ronggowarsito pada umumnya mencerminkan perpaduan
antara alam pikiran Jawa dengan ajaran Agama Islam. Karena kehidupan Ronggowarsito
dan pujangga-pujangga Jawa pada umumnya berada dalam kedua lingkungan
kebudayaan tersebut, sesudah zaman kerajaan Jawa-Islam. Walaupun pada hari-hari
tuanya Ronggowarsito banyak bergaul dengan sarjana-sarjana Belanda yang
mempunyai perhatian terhadap bahasa dan kebudayaan Jawa, seperti dengan C.F.
Winter, Cohen Stuart dan sebagainya. Tetapi, pergaulan ini tidak banyak memberi
bekas dalam pemikiran Ronggowarsito.
Ronggowarsito yang
hidup semenjak tahun 1802 sampai tahun 1873, dengan sendirinya mengalami
berbagai macam pergolakan dan perubahan-perubahan suasana politik dalam
lingkungan istana. Setiap perubahan sikap politik dalam hubungan
dengan pemerintahan kolonial Belanda, langsung atau tidak langsung pasti
mempengaruhi kedudukan pejabat-pejabat istana.
Karena melihat korupsi
yang terjadi di istana dan masyarakat, serta berbagai tindakan amoral dan
keadaan yang memprihatinkan di masyarakatnya, Ronggowarsito yang berperan
sebagai pujangga istana serta penyambung lidah rakyat kemudian menuliskan keadaan
zamannya tersebut dalam bentuk karya sastra.
Menurut Ronggowarsito,
ada tiga macam pembagian zaman. Yakni zaman edan atauKalatidha yaitu
ditandai dengan adanya pola pikir yang salah. Hal ini diungkapkan dalamSerat
Kalatidha sebagai berikut:
Amenangi jaman
edan/ewuh aya ing pambudi/melu edan nora tahan/yen tan melu anglakoni/boya
kaduman melik/kaliren wekasanipun/dilalah karsa Allah/begja-begjane kang
lali/luwih begja kang eling lawan waspada.
Artinya:
Mengalami zaman gila,
serba sulit dalam pemikiran, ikut menggila tidak tahan, kalau tidak ikut
(menggila), tidak (akan) mendapat bagian, akhirnya (mungkin) kelaparan,
(tetapi) takdir kehendak Allah, sebahagia-bahagianya (orang) yang lupa, (masih)
bahagia yang sadar dan waspada.
Kemudian akan diiukuti
oleh Zaman Kalabendu yaitu moralitas semakin merosot
disebabkan oleh pola pikir yang salah. Hal ini terdapat dalam Serat
Sabda Jati sebagai berikut:
Para janma jaman
pakewuh, kasudranira andadi,
daurune saya ndarung,
keh tyas mirong murang
margi,
kasetyan wus ora katon.
Orang-orang dalam
zaman pakewuh (edan), kerendahan budinya makin menjadi-jadi,
kekacauan bertambah, banyak orang berhati sesat (buruk), melanggar peraturan
yang benar, kesetiaan sudah tiada terlihat.
Yen kang uning marang
sajatining kawruh,
kewuhan sajroning ati
yen tan niru ora arus,
uripe kaesi-esi,
yen nirua dadi asor.
Bagi orang yang tahu
akan kebenaran, dalam hati terasa ewuh (bingung), apabila tidak turut berbuat
sesat, hidupnya akan menjadi merana, kalau ikut menjadi rendah budi pekertinya.
Nora ngandel marang
gaibing Hyang Agung,
anggelar sakalir-kalir,
kalamun temen tinemu,
kabegjane anekani,
kemurahaning Hyang
Manon.
Tindakan seperti itu,
berarti tak percaya akan kemurahan dan kekuasaan Tuhan, yang menciptakan
segala-galanya. Apabila memohon dengan bersungguh hati, pasti mendapat anugerah
dari kemurahan Tuhan.
Anuhoni kabeh kang duwe
panyuwun,
yen temen-temen
sayekti,
Allah aparing pitulung,
nora kurang sandhang
bukti,
saciptanira kalakon.
Tuhan mengabulkan semua
permohonan, apabila disertai kesungguhan, Allah pasti memberi pertolongan,
tidak akan kekurangan makan serta pakaian. Segala yang diingini akan
terlaksana.
Lalu kemudian akan
muncul Zaman Kalasuba atau zaman keemasan. Datangnya masa
keemasan sebagai akhir kalabendu, terdapat dalam Serat
Jakalodhang, sebagai berikut:
Sangkalane maksih
nunggal jamanipun,
neng sajroning madya
akir,
Wiku sapta ngesthi
ratu,
ngadil pari marmeng
dasih,
ing kono karsaning
Manon.
Ciri waktu pada zaman
itu, yakni pada pertengahan, dengan ciri tahun; wiku sapta ngesthi ratu. Itulah
masa keadilan dan kemakmuran yang merata, demikian kehendak Tuhan.
Tinemune wong ngantuk
anemu kethuk,
malenuk samargi-margi,
marmane bungah kang
nemu,
marga jroning kethuk
isi,
kancana sosotya abyor.
Waktu itu orang yang
sedang mengantuk, sambil duduk saja mendapat kethuk (menemukan benda). Kethuk
itu terdapat di sepanjang jalan-jalan. Orang yang mendapat riang-gembira,
lantaran di dalamnya berisi emas permata yang bergemerlapan.
Itulah sekilas
pemikiran Ronggowarsito mengenai zaman edan yang dituangkan
dalam beberapa karya sastranya. Di dalam karya tersebut terdapat banyak sekali
ajaran moral yang dapat diterapkan dalam konteks zaman sekarang ini.
Langganan:
Postingan (Atom)
RPP Kelas V - Tema 1 Sub.Tema 1 Pemb.1
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) KURIKULUM 2013 REVISI 2018 TEMA 1 ....
-
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ketika guru berada di depan kelas, satu kenyataan terpampang di depan mata bahwa siswa yang d...
-
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) KURIKULUM 2013 REVISI 2018 TEMA 1 ....
-
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Desa merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwe...


